Lingkar Studi Pers, Jakarta – Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini, Jakarta Pusat, terus mengukuhkan posisinya sebagai pusat seni dan budaya terkemuka di Indonesia. Dengan berbagai ekspresi seni seperti teater, film, seni rupa, dan sastra, TIM terus berfungsi sebagai ruang inspiratif bagi seniman dan pencinta seni. Setelah revitalisasi besar-besaran, TIM kini hadir dengan tampilan modern tanpa kehilangan identitasnya sebagai pusat kreativitas.
Revitalisasi TIM menghadirkan arsitektur modern yang fungsional, menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan inspiratif bagi pengunjung. Di pintu masuk, patung Ismail Marzuki berdiri megah di depan Gedung Ali Sadikin, dengan desain yang terinspirasi dari notasi lagu legendaris Rayuan Pulau Kelapa. Gedung ini kini menjadi pusat kegiatan seni, dilengkapi ruang pertunjukan yang mendukung eksplorasi kreatif.
Salah satu daya tarik utama TIM adalah Gedung Trisno Soemardjo dulunya dikenal sebagai Planetarium ini menyajikan pertunjukan simulasi langit dengan teknologi mutakhir. Sementara itu, Graha Bhakti Budaya tetap menjadi panggung utama bagi pertunjukan drama, tari, dan konser musik berskala besar.
Bagi pencinta seni rupa, Galeri Oemar Effendi menawarkan pameran yang menampilkan karya dari seniman muda hingga maestro, dengan mural dan lukisan yang memperkuat nuansa artistik di berbagai sudut TIM.
Tak hanya itu, Perpustakaan Jakarta yang berlokasi di TIM menyediakan koleksi literatur yang kaya dalam suasana baca yang nyaman. Pengunjung dapat dengan mudah mendaftar secara gratis melalui aplikasi Jaklitera untuk mengakses koleksi yang tersedia.
Sebagai destinasi seni ikonik Jakarta, Taman Ismail Marzuki terus menjadi ruang inspiratif bagi seniman dan masyarakat untuk mengeksplorasi berbagai bentuk ekspresi seni. Dengan akses yang mudah dan fasilitas yang semakin lengkap, TIM siap mempertahankan eksistensinya sebagai pusat seni dan budaya utama di Indonesia.
Penulis: Siti Aulia Nur Zahraa
0 Komentar